Editors Picks

Selasa, 08 Mei 2018

Anak Sebagai Amanah

gambar : kompasiana.com

Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apa pun. Dia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul "agenda persoalan" baru yang tiada kunjung habisnya, ketika dewasa anak dapat menampakan wajah manis dan santun, penuh bakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya. akan tetapi, di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orang tua pun selalu cemas memikirkannya.

Setiap anak itu unik. Masing-masing dari mereka memiliki kebutuhan, tantangan, dan permasalahan yang berlainan. Mereka juga mempunyai potenssi dan bakat yang berbeda. Seorang anak juga membutuhkan panutan, tetapi hal itu bukanlah berarti paksaan untuk mengikuti apa yang diinginkan. Anak berhak memilih dan melakukan apa yang dia inginkan. Hal ini sangat diperlukan, agar ketika beranjak dewasa si anak mampu menjadi manusia yang bertanggung jawab, kreatif, serta sanggup menjadi pribadi yang mandiri.

Kendati demikian, orang tua perlu dulu meletakan bingkai yang tepat. Sehingga tidak terjadi disorientasi pada anak. Penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan istilah yang mudah dipahami menjadi tantangan tersendiri bagi kita dalam menjelaskan hakikat hidup ini. Bahwa hidup adalah untuk beribadah dan meraih ridha iLahi.


ANAK ADALAH AMANAH
Tidak ada satu manusia pun yang kuasa menolak kematian dan sesudah mati pun kita pasti akan memikul tangggung jawab dari apapun yang kita lakukan. Di dunia ini kita hanya mampir. Di sini tempat berladang dengan harta, ilmu dan amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Maka dari itu, sejak saat ini kita harus serius menata setiap ikhtiar kita, baik dalam mencari rejeki maupun menuntut ilmu, agar menjadi manfaat. tidak hanyak untuk di dunia, tetapi juga untuk akhirat.

Karenanya, dengan segala keterbatasan, marilah kita bersama-sama merenungkan tentang investasi kita untuk hari sesudah mati.

Pertama, kita harus sungguh-sungguh mencari harta supaya kita bisa melakukan amal jariyah seperti wakaf. Misal wakaf sumur air, setiap ada yang berwudhu atau setiap ada orang yang meminum air dari sumur itu, maka pahalanya akan terus mengalir. 

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Merupakan sebuah kesuksesan bagi kita jika orang yang kita ajari menjadi lebih pintar dari kita. Guru yang baik itu bisa membuat muridnya lebih baik. kalau guru hanya ingin pintar sendiri di kelas, berarti dia kurang bagus mengajarnya.

Ketiga, anak yang saleh yang mendoakan orang tua. Berapapun tenaga dan biaya yang kita keluarkan untuk mendidik anak, itu bukanlah tenaga dan biaya sia-sia. Itu adalah sebuah investasi. Oleh karena itu jangan sampai kita mendidik anak-anak hanya dengan menggunakan waktu dan tenaga sisa yang kita miliki, sisa dari kantor, sisa dari acara arisan, dan sisa-sisa yang lainnya. bayangkan, apa yang akan kita dapatkan dari investasi yang serba sisa itu ?

Kita harus serius menanam saham pada anak supaya menjadi anak soleh. Kalau kita meninggal besok lusa, mudah-mudahan anak kita bisa mengurus diri, keluarga, dan segalanya. Kita harus selalu melihat bahwa keturunan kita adalah bagian dari keselamatan dunia dan akhirat kita. Oleh karena itu, jangan pernah memberikan sisa kepada mereka. kita harus terus berembuk dengan istri untuk mengevaluasi keadaan anak-anak.

Kalau kita merindukan bangsa ini bangkit, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga di rumah. Sebab tata nilai yang ditanamkan di rumah akan mengantarkan anak-anak saat besar nanti menjadi seorang pemimpin. Kalau di rumah hanya pamer harta maka setelah besarnya dia akan meraup harta. Akan tetapi, jika tata nilai yang baik ditanamkan pada anak-anak kita, maka dari itu akan mejadi "investasi abadi" bagi kehidupan kita kelak.

Jika anak kita semakin kaya, maka akan semakin banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak pula orang yang terangkat martababatnya. Dia semakin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya. Belum tentu anak kita panjang umur. beberapa anak ada yang lebih dulu pulang ke rahmatullah dari pada orang tuanya, kita pun harus siapkan mereka supaya bisa pulang dengan selamat. Jangan hanya disiapkan untuk bisa hidup kaya di dunia ini, tetpai juga disiapkan menjadi orang yang hidup bermartabat di akhirat.