Editors Picks

Selasa, 08 Mei 2018

Konsep Dasar Pendidikan Ar-rafi



Bagaimana membangun manusia unggul, merupakan pertanyaan dari seorang filsuf Jerman yaitu Friedrich Nietzsche yang lahir pada tahun 1844. Pada era orde baru dan era reformasi banyak para penyelenggara pendidikan mempromosikan diri dalam membangun manusia unggul melalui lembaga pendidikan unggulan seperti SD/SMP plus dan SMP/SMA Islam terpadu. Bagaimana menyelenggarakan proses pendidikan unggulan ? Dan bagaimana sosok manusia yang disebut dengan manusia unggul?.

Siapa Yang Dapat Disebut Sebagai Manusia Unggul ?
Sebenarnya tidak ada manusia unggul yang ada manusia yang diunggulkan oleh Allah SWT, yaitu orang-orang mukmin yang berilmu, seperti firmannya dalam Al-Quran surat Al-Mujadillah ayat 11 artinya yaitu :

... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. ... (Qs. al-Mujaadillah 58 : 11)

Dalam ayat tersebut Allah SWT berjanji akan meningkatkan derajat (mengunggulkan) orang-orang mukmin yang berilmu. Inilah landasan teologis konsep pendidikan Ar-rafi (meningkatkan/meninggikan) dalam membangun manusia unggul yang ditingkatkan derajatnya oleh Alloh SWT.

Dengan kata lain sosok manusia unggul adalah sosok mukmin yang memiliki ilmu yang dijanjikan Allah SWT untuk diunggulkan, karena manusia tidak akan menjadi sosok manusia unggul, kecuali diunggulkan oleh Allah SWT.

Dengan demikian :
Konsep pendidikan Ar-rafi adalah pendidikan yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk menjadi
seorang mukmin yang memiliki ilmu, sehingga dijanjikan Allah SWT untuk ditingkatkan derajatnya, atau diunggulkan diantara manusia.